LATEST RELEASE

Berapa banyak putera bangsa yang berkesempatan mendapat beasiswa ke kampus bergengsi seperti Royal Conservatoire of Scotland (RCS), Glasgow, Inggris? Vincent Wiguna salah satunya. Ia bahkan menjadi penerima pertama beasiswa Orchestral Conducting di program yang diikutinya. 

“Kebetulan aku ini batch satu penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia,” ungkap Vincent, alumnus Conducting Fellow Bandung Philharmonic Season ke-4 tahun 2018. Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) adalah kolaborasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dengan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud ristek). BPI menyediakan jalur khusus pelaku budaya.

Meskipun menyediakan jalur khusus pelaku budaya, ternyata konservatori tidak tercakup di dalam sistem. Supaya tidak terganjal prosedur dan birokrasi, Vincent, yang sudah mengantungi Letter of Acceptance dari RCS, memasukkan Oxford sebagai kampus pilihan. Namun, ia menindaklanjuti berkas-berkasnya dengan surel yang menjelaskan keunggulan RCS, lengkap dengan tabel-tabel perbandingan. “Soalnya di webinar LPDP dikasih tahu, boleh kalau (kampus yang dituju) nggak ada di list, tapi harus ada di sepuluh besar QS World University Rankings,” papar Vincent.

Setelah mendaftar ke RCS pada bulan Oktober 2020 dan diterima pada Desember 2020, Vincent mencari jalan menuju beasiswa. Bulan Mei 2021, Vincent mengirimkan aplikasi untuk BPI dan menerima hasilnya pada bulan Agustus 2021. Pada September 2021, Vincent sudah resmi menjadi mahasiswa Master di RCS. 

Usai masa karantina di Inggris, sebelum sempat beradaptasi dengan kampus barunya, Vincent langsung mendapat kejutan: bertugas mengaba orkestra RCS. “Padahal kan waktu itu belum diajarin (apa-apa).”

Ternyata mahasiswa program Master di RCS memang dituntut memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni di dunia orkestra. Hampir semua mahasiswa Master di kampus tersebut berangkat dari jurusan musik, bahkan conducting. Vincent sendiri mengaku belum pernah kuliah musik. Ia menempuh S1 di jurusan Hubungan Internasional, Universitas Indonesia. Kendati demikian, ia bukan pemain baru di dunia orkestra. Vincent memulai pengalaman mengabanya di bangku SMU, ketika selama dua tahun menjadi pengaba orkestra alat tiup di sekolahnya. Selepas SMU, Vincent belajar dari pengaba musik klasik senior Tommy Prabowo dan ditarik menjadi asisten pengaba di Jakarta City Philharmonic. Sebelum berangkat ke Inggris pun untuk pertama kalinya Vincent berkesempatan mengaba seluruh program dari salah satu konser Jakarta Sinfonietta.

Conducting Fellow adalah salah satu program Bandung Philharmonic yang diadakan rutin sebelum pandemi. Setiap tahun Direktur Musik Bandung Philharmonic, Maestro Robert Nordling, memilih tiga pengaba muda potensial untuk dilatih secara intensif dan dilibatkan langsung pada rangkaian konser Bandung Philharmonic. Program ini juga memberi kontribusi penting dalam perjalanan mengaba Vincent.

“Menurut saya salah satu kesempatan yang paling berharga untuk conductor muda itu podium time. Sebagai conductor kita bisa mempersiapkan semuanya di balik meja, latihan di depan cermin sebanyak mungkin, tapi cuma di hadapan orkestra kita baru bener-benar belajar ngonduct,” tutur Vincent.

Vincent berpendapat, Bandung Philharmonic memberinya kesempatan yang terbilang langka. Selain dibimbing secara langsung dan eksklusif oleh Maestro Conducting berskala internasional, Vincent juga berkesempatan mempraktikkan hasil belajarnya di orkestra profesional yang tak lagi terganjal kendala-kendala teknis. “Jadi, kita cuma konsentrasi ke gimana kita ngonduct,” kata Vincent. Tak hanya itu, orang-orang yang terlibat di sekitar Bandung Philharmonic pun profesional. “Menurut saya, ini lingkungan yang ideal,” kata Vincent.

Saat menjadi asisten pengaba di Jakarta City Philharmonic maupun Conducting Fellow Bandung Philharmonic, Vincent berusaha hadir sesering mungkin di sesi-sesi latihan. Ia melihat sesi-sesi latihan sebagai kesempatan untuk mengobservasi dan belajar dari orang-orang yang terlibat. Ketika ditanya pendapatnya mengenai “kejutan” dari RCS—dituntut siap mengaba orkestra sebelum sempat belajar apa-apa—Vincent menjawab dengan mantap, “I saw it as a very rare opportunity.”

Vincent Wiguna adalah pengaba muda yang melihat setiap tantangan dan peluang sebagai kesempatan untuk berkembang. Bagi Bandung Philharmonic, menjadi bagian dari rampai kesempatan yang dirangkainya adalah sebuah kehormatan. 

Selamat belajar di Britania Raya, Vincent!

(Penulis: Sundea)